Kekayaan Sejati Seorang Mukmin
Sering kali, kita menyamakan kekayaan dengan tumpukan harta benda, emas, dan perak.
Padahal, Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap harta yang hanya menjadi beban
dan bukan bekal menuju akhirat.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 34:
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ
فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah,
maka beritahukanlah kepada mereka kabar ‘gembira’, (bahwa mereka akan mendapat)
azab yang pedih.”
(QS. At-Taubah [9]: 34)
Ayat ini merupakan ancaman langsung terhadap praktik kanz,
yaitu menimbun harta tanpa menunaikan hak-hak wajibnya, terutama zakat.
Harta yang seharusnya menjadi sarana ketaatan justru berubah menjadi sumber siksa
pada hari kiamat.
Kekhawatiran inilah yang mendorong para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
“Wahai Rasulullah, seandainya kami mengetahui harta manakah yang terbaik,
niscaya kami akan menjadikannya sebagai simpanan.”
Mereka mencari simpanan yang aman, yang tidak mendatangkan azab.
Maka Rasulullah ﷺ mengalihkan perhatian mereka dari kekayaan lahiriah
menuju kekayaan batiniah. Beliau bersabda:
“Harta simpanan yang paling mulia adalah:
- Lisan yang selalu berzikir (Lisanun Dzākir),
- Hati yang selalu bersyukur (Qalbun Syākir),
- Pasangan yang beriman (Zaujah Mu’minah) yang membantu suaminya
dalam urusan keimanan.”(HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Ketiga hal ini adalah simpanan akhirat yang tidak akan mendatangkan azab,
melainkan pahala yang terus mengalir.
Prinsip Utama: Mengutamakan Akhirat, Dunia Akan Mengikuti
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang ambisi terbesarnya adalah akhirat, niscaya Allah akan menghimpunkan
segala urusannya, menjadikan kecukupan di dalam hatinya,
dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.”“Namun barang siapa yang ambisi terbesarnya adalah dunia,
niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya,
menjadikan kefakiran selalu berada di depan matanya,
dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali sebatas apa yang telah ditetapkan baginya.”
Mari kita jadikan akhirat sebagai tujuan utama,
niscaya dunia akan mengabdi sebagai sarana menuju ridha Allah.
